Selasa, 17 November 2009

Pergantian Musim di Indonesia Semakin Aneh Saja

Saat ini mulai terjadi anomali (keanehan) batas pergantian musim di Indonesia. Jika dulu jatuhnya musim hujan maupun kemarau hampir selalu bisa diperkirakan, kini hal itu sulit dilakukan. Sebagai negara beriklim tropis, warga lazim berpatokan bahwa musim hujan tiba ketika matahari berada di belahan bumi selatan. Yakni, pada Oktober-April. Musim kemarau terjadi ketika matahari berada di sebelah utara khatulistiwa. Itu terjadi pada April-Oktober. Jika patokan tersebut konsisten, berarti banjir di Jakarta tidak akan terjadi pada Mei. Sebab, saat itu sedang musim kemarau. Faktanya, pada bulan tersebut, Jakarta beberapa kali diguyur hujan deras hingga banjir. ''Tahun ini memang ada anomali dalam penghitungan musim dan itu cukup menyulitkan prediksi,'' kata Kepala Bidang Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Sutamto di Jakarta.

Saat ini, BMG membagi wilayah iklim di Indonesia menjadi tiga zona. Pertama, zona A yang meliputi Indonesia bagian selatan. Terdiri atas, Sumatera Selatan, Jawa hingga Pulau Timor, Kalimantan, Sulawesi, serta sebagian Papua. Kedua, zona B yang meliputi Indonesia bagian barat laut. Di antaranya, Sumatera Utara sampai bagian tenggara. Keempat, zona C yang meliputi Maluku dan Sulawesi Utara. ''Setiap wilayah mempunyai rentang musim hujan dan kemarau yang berbeda-beda,'' terangnya. Zona A, lanjut dia, mempunyai puncak musim hujan pada Januari dan puncak musim kemarau pada Agustus. Zona B mempunyai dua puncak musim hujan, yaitu April dan November, serta puncak musim kemarau Februari dan Juli. Zona C mempunyai puncak musim hujan pada Juni-Juli dan puncak musim kemarau November atau Februari. ''Tapi, kini patokan tersebut kerap bergeser karena adanya banyak faktor anomali alam,'' paparnya.

Di sebagian besar wilayah Indonesia, musim hujan tahun ini diprediksi mundur satu hingga dua bulan dari normal. Sebab, awal musim hujan baru dimulai akhir November. Padahal, kondisi normal hujan paling awal terjadi pada awal September. Kawasan yang periode hujannya normal hanya wilayah Sumatera bagian utara serta sebagian wilayah perbatasan Kalimantan Utara dan Papua. Diperkirakan, anomali itu akan dialami 60 persen di antara 220 daerah atau zona prakiraan musim di Indonesia. Menurut Sutamto, anomali tersebut disebabkan terjadinya fenomena penghangatan suhu muka laut di selatan Sumatera, Jawa, hingga Nusa Tenggara, termasuk Laut Jawa dan perairan barat Kalimantan. ''Suhu muka laut di kawasan itu menghangat hingga 1,5-2 derajat celsius dari normal. Akibatnya, penguapan dan pembentukan awan memicu kejadian hujan di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Nusa Tenggara meningkat tajam,'' urainya.

Stasiun Meteorologi Jatiwangi, Majalengka, memperkirakan musim hujan semula berakhir Mei. Namun, ternyata mundur sampai pertengahan-akhir Juni. Perkiraan pergeseran itu dilakukan dengan melihat gelagat musim yang berlangsung di seluruh Pulau Jawa. Sampai pertengahan Juni, hujan masih sering turun. Berdasar estimasi BMG, awal musim kemarau di 220 zona musim (zom) diperkirakan dimulai secara bervariasi. Beberapa zom di Bali, NTB, dan NTT mengalami musim kemarau sejak Maret lalu. Sementara itu, di ujung batas zona di Kotabaru bagian tenggara (Kalimantan Selatan), musim kemarau baru dimulai Agustus. ''Secara keseluruhan, jika dibandingkan terhadap rata-ratanya selama 30 tahun terakhir, awal musim kemarau 2009 umumnya mundur,'' ujar prakirawan BMG Muhamad Ali Mas'at.

Kemunduran tersebut terjadi karena suhu permukaan laut, terutama di Laut Jawa, masih relatif panas, sehingga penguapan masih tinggi dan mengakibatkan banyak hujan. Diperkirakan, suhu permukaan air laut bisa mencapai 31 derajat celsius. ''Hal itu berpotensi menimbulkan awan sangat tinggi dengan curah hujan 200-400 milimeter per bulan,'' jelasnya. Pakar Meteorologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Armi Susandi mengungkapkan, pemanasan global telah mengakibatkan semakin tidak meratanya pola temperatur dan tekanan udara secara spasial (ruang). Perbedaan temperatur terjadi di daerah subtropis maupun daerah tropis yang mengakibatkan terjadinya pergerakan udara. Semakin tinggi perbedaan tekanan udara karena perbedaan temperatur, semakin kencang angin yang ditimbulkan dan bisa melahirkan badai pada lintang tertentu. Perbedaan temperatur yang ekstrem dapat memicu munculnya cuaca ekstrem. ''Perhitungan musim tanam dan musim melaut tidak lagi presisi. Bencana pun selalu datang, baik pada musim kemarau maupun musim hujan,'' terangnya.

Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup Suparto Wijoyo menegaskan, fenomena anomali cuaca tersebut dipicu oleh pemanasan global. Menurut dia, dalam dimensi sejarah peradaban pemanasan global, hal itu dipahami sebagai produk dari revolusi industri. ''Secara faktual, pergeseran musim karena perubahan iklim merupakan realitas yang mesti disikapi,'' tegasnya. Jika problem iklim itu tidak diimbangi kesadaran seluruh penduduk Indonesia, kerugian bisa mencapai triliunan rupiah. Menurut dia, bila pemanasan global terus tidak terkendali, akibat yang dirasakan Indonesia adalah tenggelamnya empat ribu pulau dalam kurun setahun. Hingga kini ditemukan sudah 23 pulau di tanah air tenggelam.

referensi: harian rakyat aceh

0 komentar:

Poskan Komentar