Photobucket

#1

Virgiawan Listanto yang akrab disapa Iwan Fals adalah figur yang mempengaruhi jalan hidup saya selama ini. Sejak Taman Kanak-Kanak saya sudah sering didengarkan lagu-lagunya, secara tidak langsung saya sudah ter-influence beliau sejak kecil.

Photobucket

#2 title

Di samping saya adalah Andre Picessa. Bagi saya dia adalah seorang pemain Timnas Futsal yang sangat berkarakter. Bekerja sama dengannya dalam pembuatan iklan rokok dan dapat bermain 1 tim dengannya adalah suatu kebanggaan tersendiri buat saya.

Photobucket

#3

Ini adalah pencapaian terbesar saya selama ini. Mendapatkan Juara 2 dalam Turnamen Futsal Nasional KIT FUTSALISMO 2011 yang disiarkan langsung di Tv One pada tanggal 23 Desember 2011 pukul 15.00 WIB.

Photobucket

#4

Mereka adalah inspirasi saya selama ini. Gambar itu adalah foto dimana Iwan Fals sedang berpose bersama para Pemuda IREMTA (Ikatan Remaja Tanah Baru ). Gambar itu diambil sekitar pertengahan tahun 90-an ketika Pemuda IREMTA bermain sepakbola bersama Iwan Fals.

Photobucket

#5

Ini adalah tim terbaik saya, bukan hanya prestasi yang diutamakan melainkan kebersamaan dan kekeluargaan. Kami disatukan atas dasar perbedaan yang membuat kami semakin bijaksana ketika bermain untuk tim ini.

Jumat, 06 Januari 2017

Sak Lawase

Perayaan hari Ibu tanggal 22 Desember lalu membuat kisah tersendiri untuk semua anak yang lahir dari rahim seorang Ibu. Mereka terlahir dalam keadaan yang sama, sama-sama suci dan lahir dari kasih sayang kedua orang tuanya. Kasih sayang seorang Ibu jelas terasa, dimulai dari ketika mengandung hingga sang anak tumbuh besar menjadi dewasa. Itu jelas tak perlu diragukan lagi!!

Ibu adalah sebuah kunci kesuksesan dalam hidup dan itu jelas diutarakan oleh beberapa orang sukses yang kini ngehits didunia pertelevisian, tidak terkecuali Agus Indra Kurniawan. Siapa yang tidak kenal dengan pemain sepakbola kenamaan asal Gresik ini. Selain jago mengolah si kulit bundar ia juga tampan dan religius. Ibadahnya sangat bagus dan ia sangat amat mencintai Ibu nya. Pernah beberapa kali saya membaca artikel tentangnya dan mendengar cerita dari Andritany (kiper Persija Jakarta) kalau ia memang sangat religius dalam beribadah.

Agus Indra pernah memperkuat Persija Jakarta selama 8 (delapan) musim dan menyegel posisi inti sebagai Gelandang Serang. Publik Jakarta pun sangat mencintainya dan sudah menganggap ia sebagai salah satu legenda hidup tim yang berjuluk Macan Kemayoran itu. Namun di musim 2011 ia harus hijrah dari tim Ibu Kota menuju tim tanah kelahirannya, yaitu Persegres Gresik. Keputusan yang sangat berat baginya untuk hijrah dari Persija, karena ia sudah merasa kalau Persija adalah rumah kedua baginya dan bukan hal yang mudah untuk berpisah dengan konco kentel nya yaitu Bambang Pamungkas.

Ada suatu alasan yang membuat ia harus hijrah ke Gresik, yaitu Ibu. Indra sapaan akrabnya ingin fokus merawat dan mengurus Ibu nya. Ia begitu amat menyayangi Sang Ibu hingga harus memutuskan hijrah ke Gresik, padahal di Persija jelas ia mendapat posisi inti dan mendapat salary yang cukup besar. Semua jejaring sosial miliknya selalu menampilkan rasa sayangnya kepada Ibu, baik di instagram maupun twitter. Saya sangat menyukai slogan khas miliknya yang tertera pada jejaring sosialnya, yaitu “Sak Lawase Anak Raiso Mbales Budine Wong Tuwo”, jika diartikan seperti ini “Selamanya Anak tidak Bisa Membalas Budi kepada Orang Tua”.

Jujur saya sangat kagum dengan Agus Indra, selain handal dalam memainkan sepakbola ia juga religius dan memiliki attitude yang baik. Jarang sekali orang memiliki kepribadian seperti Indra, sungguh beruntung wanita yang bisa menjadi pasangan hidupnya. Oyaa saat ini Agus Indra masih menjomblo walaupun sudah memiliki cukup umur untuk menikah, yaitu 34 tahun.


Kisah Agus Indra sangat menginspirasi buat saya dan jutaan orang diluar sana yang memang masih harus banyak belajar darinya. Mencintai dan menyayangi Ibu bukanlah hal yang mudah, namun Agus Indra mampu melakukannya dengan baik walau harus rela meninggalkan Persija Jakarta dan hijrah ke Persegres Gresik. 

Jumat, 16 Desember 2016

Matur Tampiasih Lombok

Beberapa waktu lalu saya berangkat ke Lombok bersama dengan 3 orang teman saya, yaitu Mas Yogi, Febri dan Abel. Kami berangkat dengan judul mengikuti pendidikan Enterprise Resource Planning (ERP) yang memang kami usulkan ke manajemen untuk diselenggarakan di Lombok. Jangan ditanya kenapa diselenggarakan di Lombok yaa, biasalah trik Tipuan Gelandang hehehe. Pendidikan ERP sendiri memang sangat kami butuhkan, pasalnya ini sangat berkaitan dengan sistem yang kami gunakan di perusahaan. Pengajarnya adalah Bapak Ivan Taufiza, beliau bisa dibilang sangat berpengalaman sekali untuk hal ERP ini. Beliau pernah bekerja di beberapa perusahaan ternama di Indonesia, bagian Human Capital adalah spesialisasinya hingga mampu menguasai begitu banyak sistem yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan tersebut.

SAP merupakan sistem yang kami gunakan dalam penerapan ERP dan Pak Ivan tahu benar dengan sistem ini. Pada sesi pembelajaran kami banyak bertanya dan meminta saran kepada beliau bagaimana bisa memaksimalkan sistem kami dan baiknya seperti apa tindakan yang akan kami lakukan agar sistem kami benar-benar mampu menerapkan ERP dengan baik kedepannya.

Kami menginap di daerah Senggigi, woww disini pantainya tjakep banget apa lagi kalau dibandingkan dengan Denpasar Bali, jauh lahh yaaa. Oyaa saya tidak begitu menyukai pantai karena pemandangan yang menurut saya monoton dan cuacanya yang panas. Tapi disini saya jatuh hati dengan pantai, mungkin karena pemandangannya yang tjakep banget, alami dan banyak bule lagi berjemur hehehe.

Gak mau ketinggalan dengan teman-teman yang pernah kesini, akhirnya saya berangkat menuju Gili Trawangan yang bisa dibilang tempat paling nge-hits di Lombok. Tiket nyebrang ke Gili cukup mahal, saya harus merogoh kocek sebesar 170 ribu rupiah untuk PP menyebrang ke Gili dengan menggunakan Fast Boat. Sebenarnya ada yang lebih murah, yaitu dengan menggunakan perahu nelayan, tapi gak dehhh saya trauma dengan itu. Sesampainya di Gili saya cukup terheran karena mirip dengan Pulau Tidung yang ada di Kepulauan Seribu. Kemiripannya terletak dari struktur pulau dan banyaknya home stay yang ada di Gili Trawangan. Tapi untuk keindahan pantai saya rasa Gili jauh lebih baik dibanding Tidung, sumpah bersih banget dan rasanya mau berenang aj kalau lihat air pantainya. Sayang jahitan di dagu belum sembuh dan gak boleh kena air untuk beberapa waktu huhuu.

Di Gili banyak fasilitas yang dapat kita temukan, mulai dari home stay, sepeda, tempat makan, pusat oleh-oleh dan banyak lagi fasilitas yang ditawarkan disini. Yang saya khawatirkan adalah sinyal, karena di Senggigi sinyalnya buruk sekali sampai-sampai saya harus menggunakan wifi hotel untuk tetap bisa memantau kerjaan di kantor dan melihat jejaring sosial. Tapi ternyata disini sinyalnya kenceng banget, bisalah buat update status path atau upload snapgram hehehe. Yaaa di Gili banyak bule berjemur dan berenang di pantai, udah cuma itu aj pemandangannya, agak monoton memang kalau ke pantai (menurut saya).

Keesokan harinya saya berkunjung ke Dusun Sade yang terletak di Desa Sasak daerah Rembitan, Lombok Tengah. Sade merupakan dusun yang penduduknya masih mempertahankan adat suku sasak, Dinas Pariwisata setempat menjadikan Sade sebagai Desa Wisata karena keunikan adat istiadat setempat beserta penghuninya. Meski terletak disamping jalan raya, Sade masih memegang teguh menjaga keaslian desa. Sade bisa dibilang gambaran suku asli Sasak Lombok, yaa walaupun sudah mulai menggunakan listrik namun Sade menyuguhkan suasana perkampungan asli pribumi Lombok. Bangunan rumah yang unik dan kain hasil sulaman para wanita Sade membuat saya senyum-senyum sendiri. Rumah mereka dibangun dengan material yang unik dan perawatannya pun demikian, mereka membersihkan rumah mereka dengan menggunakan kotoran kerbau. Kebayang kan gimana jijik nya, tapi mereka malah berpendapat kalau itu bisa membuat bangunan tambah kuat dan lantainya adem. Tentunya mereka punya trik tersendiri bagaimana cara menggunakan kotoran kerbau hingga hasilnya mampu membuat bangunan mereka jadi lebih indah.

Saya membeli kain panjang mirip syal bertuliskan Sade disisi kiri dan Lombok disisi kanan, syal ini asli sulaman wanita Sade, lumayan lahh buat pajangan di kamar atau dililitkan di tas kayanya kece juga hehee. Setelah berkunjung ke Sade saya mampir ke salah satu rumah makan yang menyuguhkan makanan khas Sasak, yaitu Nasi Balap Puyung. Isinya adalah Nasi dan ayam suir serta taburan kacang goreng, tapi jangan salah walaupun tampilannya sederhana rasanya menggugah selera banget lohh ini. Apa lagi ayamnya pedes banget, beeuuhhhhh cocok banget deh buat penikmat kuliner pedas kaya saya.

Setelah makan kami bergegas sholat jumat dan melanjutkan perjalanan ke bandara untuk kembali pulang ke Jakarta. Banyak cerita di debut saya datang ke Lombok, dimulai dari tempat wisata, kuliner dan suasananya yang tentram. Kalau diajak kesini lagi gak nolak deh, soalnya Lombok asik banget. Waaah udah malem dan besok harus lembur di kantor, saya rasa cukup cerita tentang pengalaman saya di Lombok, matur tampiasih!!

Minggu, 11 Desember 2016

5 JAHITAN



Jumat pagi kala itu digelar pertandingan futsal antara Bank BTN vs Waskita Karya dalam turnamen yang bertajuk Porseni BUMN tahun 2016. Porseni BUMN memang rutin digelar setahun sekali oleh Kementrian BUMN untuk mempererat silaturahmi antara BUMN seluruh Indonesia melalui Olahraga dan Seni. Ini adalah Porseni ke-tiga saya bersama Bank BTN selama saya bekerja disini, padahal jika di total masa kerja saya baru 2 tahun 3 bulan hehehe.

Untuk pertama kalinya saya mengemban jabatan sebagai Kapten Tim untuk event yang bisa dibilang cukup besar karena skalanya yang bersifat nasional. Bukan hal baru buat saya mengemban jabatan sebagai Kapten Tim, karena dibeberapa Tim dan Perusahaan yang saya bela sebelumnya saya juga mengemban jabatan yang sama. Jujur ini tidak mudah, harus bisa menyatukan beberapa pemikiran dari masing-masing individu agar bisa nge-blend antara satu dengan lainnya. Namun perlahan semua bisa menyatu dengan baik dan tercipta suasana yang sangat harmonis, bahkan kami mendapat pujian dari pelatih kepala dan manajemen karena kekompakan tim kami.

Melawan Waskita Karya adalah pertandingan ke-dua kami, dimana sebelumnya kami mampu mengandaskan perlawanan Banda Gana Reksa dengan skor 4-1. Dibabak pertama kami sudah menang dengan skor 3-0 namun pagi itu saya mengalami cidera yang cukup parah. Dagu saya robek dan harus dilakukan tindakan operasi. Awal mulanya saya sedang berlari kencang menyambut umpan dari Januar dan tanpa sadar saya terdorong oleh lawan hingga membentur tembok belakang gawang. Saya terjatuh dan seketika sadar darah segar mengalir deras bercucuran jatuh ke lantai yang bersumber dari dagu saya. Tim medis datang dan memberikan pertolongan ringan, saya dengan segera meminta untuk dipasangkan plester dan meminta untuk segera main kembali. Namun tim medis memaksa saya untuk beristirahat dan tidak memperbolehkan saya untuk bermain kembali. Menurutnya luka saya terlalu parah dan begitu dalam luka yang membekas di dagu hingga perlu beristirahat dan segera dilakukan tindakan operasi.

Dengan tegas saya menolaknya, karena saya mempunyai cerita buruk dengan operasi, jarum dan benang kosmetik (jahit). Dulu pelipis saya robek dan dilakukan tindakan operasi namun sialnya pada saat itu Dokter tidak melakukan pembiusan, jadi kebayang dong gimana rasanya dijahit dibagian pelipis tanpa dibius??? Sumpah sakit banget, makasih deh kalau disuruh ngulang kaya gitu!!

Akhirnya atas rekomendasi dari pelatih, manajemen dan teman-teman satu tim akhirnya saya meng-iya-kan saran mereka untuk dilakukan operasi. Pasalnya mereka menjanjikan kalau dengan operasi lukanya akan cepat sembuh dan memungkinkan dapat bermain kembali keesokan harinya. Setelah berdiskusi panjang akhirnya saya berangkat ke RS PELNI untuk melakukan operasi. Sumpah nderedeg banget, karena kalau berkaca dari pengalaman sebelumnya saya punya cerita yang kurang bagus dalam operasi.

Setelah 2 jam menunggu akhirnya saya dipanggil ke ruang operasi dan langsung memastikan bertanya ke Dokter untuk dilakukan bius terlebih dahulu. Saya ingat benar, sebelum di operasi saya dibius sebanyak 2 kali dibagian sekitar dagu, lalu setelah itu baru dilakukan operasi penjahitan di bagian dagu yang terluka. 20 menit berlalu akhirnya selesai juga operasi di dagu saya, total semua ada 5 jahitan. Hmmmm.. alhamdulillah operasinya berjalan lancar dan gak begitu sakit, beda rasanya ketika dilakukan operasi di pelipis dulu. Tapi sumpah disepanjang  20 menit waktu operasi saya tegang banget dan selalu beristigfar, jujurrr nderedeg banget hehehehe.

Pengalaman yang sangat berarti ketika harus masuk Rumah Sakit dan di operasi, tapi gak apa-apa lah demi Logo Bank BTN di dada dan Ban Kapten di lengan kanan wkwkwkwkwkwkwkwks. Oyaa keesokan harinya saya langsung kembali merumput ke lapangan dan memimpin rekan-rekan untuk bertanding dalam lanjutan Porseni BUMN 2016. Dan akhirnya kami mampu memenuhi target dari manajemen untuk masuk dalam 4 besar di cabang olahraga futsal. Alhamdulillah good debut from new captain!!!

Kamis, 10 November 2016

Local Tradition for Heroes

Inggris dan tanah Britania Raya mempunyai ritual untuk memperingati jasa para pahlawannya yang gugur di medan perang dengan memperingatinya di tanggal 11 November. Mereka kerap merayakan hari bernama Remembrance Day tersebut mulai dari akhir Bulan Oktober hingga pertengahan Bulan November. Mereka memperingati hari tersebut dengan mengenakan logo bunga berwarna merah yang bernama “Remembrance Poppy”. Kebanyakan dari mereka yang mengenakan Remembrance Poppy adalah figur-figur publik seperti politikus, keluarga kerajaan Inggris dan juga figur-figur publik lain.

Jika mengacu pada figur publik, maka pesepakbola pun menjadi salah satu pihak yang mengenakan poppy ini. Saya pun baru tersadar ketika melihat pertandingan Liga Inggris beberapa waktu lalu, dimana semua tim dan hampir semua pemain mengenakan poppy di jersey mereka. Namun memang ada beberapa pemain yang menolak mengenakan poppy di jersey nya karena mereka tidak sependapat dengan filosofi dari Remembrance Poppy, seperti James Mc Clean yang saat ini memperkuat West Bromwich Albion.

Poppy ini adalah simbol yang penting bagi Inggris dalam mengingat jasa para pahlawan yang gugur di medan perang dan bukan merupakan suatu hal yang dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat politik. Ini keren banget menurut saya, mereka sangat amat menghargai jasa para pendahulunya karena bukan hanya pita hitam yang melulu dijadikan tanda berkabung atau menghormati jasa orang yang telah tiada tapi juga poppy yang rutin diperingati setiap tahun.

Nah, bagaimana dengan negara Indonesia tercinta kita? Apa ada hal atau aktifitas yang dilakukan untuk mengingat jasa para pahlawan yang telah gugur mendahului kita? Jujur saya belum bisa menjawab ini karena sepertinya tidak ada namun ada yang dilakukan oleh beberapa komunitas atau beberapa suku yang memperingati jasa para pahlawan di tanggal 10 November. Kalaupun mungkin ada saya kira sifatnya tidak menyeluruh atau hanya bersifat kedaerahan saja. 

Sekarang adalah tanggal 10 November, yaitu hari yang dikhususkan bagi warga Indonesia untuk memperingati jasa para pahlawan. Jika memang belum ada tradisi khusus ada baiknya disegerakan untuk ada, tidak hanya sekedar upacara saja. Dengan demikian setidaknya bisa mengingatkan kita terhadap jasa para pahlawan yang telah gugur mendahului kita. Mungkin bisa mengikuti tradisi dari tanah Britania Raya dengan menyematkan bunga di pakaian yang dikenakan oleh figur-figur tertentu atau bahkan dikenakan oleh seluruh warga Indonesia.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Nasi Uduk Mamah Harun



Gerimis mengguyur minggu pagi saya kali ini, seakan melengkapi rasa malas yang timbul akibat kondisi badan yang terlalu letih karena futsal seharian kemarin. Gegoleran rasanya cukup tepat sambil menonton televisi atau bahkan hibernasi seharian penuh sambil menikmati gerimis yang datang. Pagi ini saya sejenak bangun untuk menikmati sarapan, Hanif langsung bergegas ketika saya minta untuk membeli Nasi Uduk di tempat Mamah Harun. Tidak biasanya memang saya minta dibelikan Nasi Uduk Mamah Harun karena memang cukup jauh dan antriannya juga banyak, biasanya hanya membeli Nasi Uduk disekitaran rumah saja. Namun entah kenapa pagi ini saya ingin mencicipi kenikmatan dari Nasi Uduk Mamah Harun.

15 menit berlalu Hanif sudah kembali ke rumah dengan membawa bungkusan yang sudah saya kenal dengan baik, yupp benar itu adalah bungkusan Nasi Uduk Mamah Harun. Kenikmatan rasanya masih sama seperti dulu, tidak berubah dengan komposisi yang pas dan harga yang cukup ramah bagi warga disekitaran lingkungan kami. Sudah cukup lama saya tidak mencicipi Nasi Uduk ini, mungkin sekitar 1 tahun. Terakhir saya mencicipinya ketika Harun masih duduk di kelas 3 SMP.

Banyak cerita antara saya dengan Nasi Uduk Mamah Harun, Mamah-nya Harun dan juga Harun sendiri. Jujur saya amat menyayangi mereka dan sudah menganggap mereka sebagai keluarga kedua. Harun Zen nama lengkapnya adalah seorang anak yatim, Ayahnya telah meninggal dunia sejak Harun masih kecil. Dia adalah anak kedua dari tiga bersaudara, Kakaknya adalah Ahmad Zen yang kini berusia 21 tahun dan Adik Perempuannya (lupa nama) berusia kurang lebih 10 tahun. Kami bertemu ketika saya sedang melatih futsal untuk anak usia dini, saya lupa kapan waktu pastinya tapi yang jelas waktu itu Harun masih SD dan masih kecil sekali. Itu semua tidak disengaja, ketika saya melatih anak-anak, Harun sedang menonton dipinggir lapangan bersama teman sebayanya sambil sesekali mempraktekan arahan yang saya berikan. Saya cukup kagum dengan gaya dia yang menirukan arahan saya dan jujur dia memang terlihat punya potensi yang bagus di olahraga futsal. Beberapa kali saya melatih, dia selalu hadir untuk melihat latihan yang saya gelar tiap sore itu, dan kembali harun meniru gerakan arahan yang saya berikan ke anak-anak hingga mencuri perhatian saya.

Pada hari itu juga Harun saya minta untuk ikut bergabung dengan tim saya dan dengan perasaan gembira dia langsung bersedia untuk bergabung dengan tim di sesi selanjutnya. Keesokan harinya Harun datang untuk bergabung bersama tim, agak sedikit tertawa ketika melihat pertama kali dia datang dengan pakaiannya yang kebesaran dan sepatu yang juga agak kebesaran. Sudah saya tebak itu adalah properti milik Kakak nya, Ahmad Zen. Harun adalah anak didik saya yang paling kecil baik dari postur tubuh maupun usia, yang lainnya kala itu sudah duduk di bangku SMP namun harun masih duduk di bangku SD. Agak sulit awalnya buat harun untuk beradaptasi, namun lama kelamaan dengan support dari anak didik yang lain Harun mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan baik.

Sisi lain, menurut saya Harun adalah anak yang baik karena dia selalu mendengarkan kata-kata saya baik di dalam maupun di luar lapangan, hormat dan penurut. Namun ternyata ketika di rumah dia berubah menjadi anak yang sulit diatur, dia sering melawan Kakak atau bahkan Mamah nya. Tidak mau mendengar apa kata Mamah nya dan sering membangkang apabila diberi nasehat. Mamah nya sering datang untuk sekedar curhat tentang perilaku Harun di rumah dan meminta tolong saya untuk memberi nasehat kepada Harun, karena menurut Mamah, Harun hanya bisa nurut kalau saya yang memberi nasehat. Ternyata dia sering bercerita tentang saya kepada Mamah nya, saya juga kaget dan baru tau kalau Harun sering menceritakan saya dan menceritakan apa yang saya sampaikan ketika melatih. Memang ketika melatih saya bukan hanya mengajarkan tentang futsal dan sepakbola, melainkan juga cara tentang hidup. Saya selalu menekankan attitude is everything dan hiduplah untuk selalu membumi.

Ketika ada masalah dengan Harun, Mamah selalu datang untuk sekedar curhat dan meminta tolong untuk memberi nasehat kepada Harun.

Bang Acoy tolong bilangin Harun yaa, belakangan ini dia sholat 5 waktunya bolong-bolong, udah gitu susah dimintain tolong, padahal Cuma disuruh Mamah nya buat nyiapin jualan Nasi Uduk. Tolongg ya Bang Acoy soalnya Harun paling nurut sama Bang Acoy, kalo sama Zen (Kakaknya)  dan Mamah nya yang ada malah ngelawan terus.”

Dan dengan segera langsung saya sampaikan kepada Harun dengan nada yang agak tinggi, bukannya kenapa-kenapa karena ini sudah masuk ke ranah orang tua. Saya harus sedikit tegas, apa lagi Mamah Single Fighter yang mana harus menghidupi ketiga anaknya dengan berjualan Nasi Uduk. Gak kebayang gimana kerasnya perjuangan seorang Ibu untuk terus berjalan mengikuti arus kehidupan dengan beban 3 orang anak.

Kejadian itu terus berulang, mungkin karena memang Harun kurang perhatian dan kasih sayang dari seorang Ayah. Saya paham betul akan hal itu dan itu adalah wajar. Sampai dengan Harun lulus dari SMP (kini Harun kelas 2 SMA) saya selalu mendampingi kehidupannya, saya berperan sebagai seorang Abang dalam hidup Harun. Ketika Harun SMP tiap hari saya yang mengantarnya pergi ke sekolah didaerah bilangan Ciganjur Jakarta Selatan. Pukul 5.45 saya menjemput dia di warung kecil milik Mamah Harun yang tiap pagi berjualan Nasi Uduk. Sambil menunggu Harun mandi saya memesan sebungkus Nasi Uduk untuk bekal saya sarapan di kantor. Disepanjang perjalanan kami selalu bercerita dan bertukar fikiran, Harun jelas menanyakan tentang futsal, futsal dan futsal

“Bang gimana sih bang biar shootingan saya kenceng?”
“Bang fisik saya jelek banget ini, kasih program dong biar saya bisa bagus fisiknya”
“Terus gimana yaa bang biar mental saya bisa bagus kalo ngadepin lawan yang lebih jago?”

Kami selalu bercerita tentang itu dan sesekali saya memberi nasehat kepada Harun agar dia lebih nurut kepada Mamah dan Kakaknya, dan alhamdulillah saya mendapat info dari Mamah kalau Harun sudah banyak berubah tentunya ke arah yang lebih baik. Semenjak Harun masuk SMA kami sudah jarang bertemu karena sekolah Harun mewajibkan siswanya untuk masuk siang. Oyaaa saya cukup bangga bisa memotivasi Harun hingga akhirnya dia bisa masuk ke SMA Negeri di daerah Cinere lohh hehee.

Saya memang bukan seorang Family Men sejati tapi saya banyak belajar tentang hidup dan mencoba untuk memberikan yang terbaik buat orang yang saya anggap patut untuk diberikan itu. Caranya mungkin gak seperti mereka yang sudah terbiasa dengan kehidupan yang baik, saya punya cara sendiri yang mungkin memang tidak terlihat prosesnya tapi berujung pada hasil akhir yang sempurna. Harun adalah sedikit dari banyak orang diluar sana yang butuh perhatian khusus, kadang hal ini dianggap remeh oleh sebagian orang karena banyak yang merasa itu adalah bukan urusannya dan lebih baik mengurusi diri sendiri dan keluarga. Eeh tapi yaa itu kembali lagi ke masing-masing pribadinya sih hehee. Sebenernya banyak banget yang mau ditulis tentang saya dan Harun tapi kayanya gak bakalan abis kalau ditulis disini. Nanti laah yaa kita nyambung di tulisan selanjutnya tentang Harun dan keluarganya.