Photobucket

#1

Virgiawan Listanto yang akrab disapa Iwan Fals adalah figur yang mempengaruhi jalan hidup saya selama ini. Sejak Taman Kanak-Kanak saya sudah sering didengarkan lagu-lagunya, secara tidak langsung saya sudah ter-influence beliau sejak kecil.

Photobucket

#2 title

Di samping saya adalah Andre Picessa. Bagi saya dia adalah seorang pemain Timnas Futsal yang sangat berkarakter. Bekerja sama dengannya dalam pembuatan iklan rokok dan dapat bermain 1 tim dengannya adalah suatu kebanggaan tersendiri buat saya.

Photobucket

#3

Ini adalah pencapaian terbesar saya selama ini. Mendapatkan Juara 2 dalam Turnamen Futsal Nasional KIT FUTSALISMO 2011 yang disiarkan langsung di Tv One pada tanggal 23 Desember 2011 pukul 15.00 WIB.

Photobucket

#4

Mereka adalah inspirasi saya selama ini. Gambar itu adalah foto dimana Iwan Fals sedang berpose bersama para Pemuda IREMTA (Ikatan Remaja Tanah Baru ). Gambar itu diambil sekitar pertengahan tahun 90-an ketika Pemuda IREMTA bermain sepakbola bersama Iwan Fals.

Photobucket

#5

Ini adalah tim terbaik saya, bukan hanya prestasi yang diutamakan melainkan kebersamaan dan kekeluargaan. Kami disatukan atas dasar perbedaan yang membuat kami semakin bijaksana ketika bermain untuk tim ini.

Jumat, 23 September 2016

When Saturday Comes



Hujan yang cukup deras mengguyur malam minggu Saya kala itu. Sehabis magrib Saya dan Bagust bergegas pergi menuju rumah Andritany untuk sekedar berkumpul dan melepas rindu. Andri baru saja tiba dari Gresik pagi ini setelah melakoni pertandingan bersama tim nya Persija Jakarta tadi malam. Memang saat ini Andri sedang naik daun setelah menjadi kapten Persija Jakarta dibeberapa pertandingan terakhir dan dipanggil untuk mengikuti seleksi Timnas Indonesia.

Sebenarnya kami telah betemu pagi tadi ketika secara bersamaan hadir di acara pernikahan teman kami Muhammad Alfian, namun Andri meminta Saya dan Bagust hadir dirumahnya untuk sekedar ngopi dan kongkow bareng. Sulit rasanya untuk menolak ajakan Andri, karena memang kami sudah cukup lama tidak kongkow kualitas sambil ngomongin negara.

Kami sudah kenal dekat sejak jaman SMP dulu, karena memang kami berasal dari satu sekolah yang sama, yaitu SMP N 131 Jakarta Selatan. Bedanya Andri berada dibawah satu tingkat dari Saya dan Bagust, dia memang lebih muda dan baru masuk sekolah kami ketika kami naik kelas 2. Saya dan Andri sudah lebih dulu kenal ketika kami sama-sama membela Tim Persija Jakarta U-14 yang bermarkas di Stadion Menteng (kini taman menteng). Walau kami berbeda SSB namun masing-masing dari kami bisa lolos dan secara bersamaan memperkuat Persija Jakarta. Pada saat itu kami sama-sama menjadi bagian penting dari Tim, dimana Saya dan Andri menjadi pemain inti dalam Tim tersebut. Yang membedakan hanya posisi bermain, dimana Saya berposisi sebagai winger dan Andri berposisi sebagai goal keeper.

Dari awal seleksi kami sudah saling tegur sapa dan menjadi teman baik, itu berlanjut hingga kami masuk ke sekolah yang sama. Suatu kebahagiaan tersendiri ketika bisa kembali bersama dalam satu sekolah, apa lagi saat itu Andri baru saja pulang dari Thailand membela Timnas Indonesia U-14. Andri berhasil lolos dari beberapa tahapan seleksi hingga menjadi kiper utama Timnas U-14 namun Saya hanya mampu menembus Tim Utama Persija U-14 saja, tidak sampai Timnas. Hehehe mungkin memang bukan rezekinya, tapi jujur dari dulu Andri sudah terlihat bakat besarnya di sepakbola, kemudian didukung oleh support dari orang tua yang memang luar biasa menurut saya. Ayahnya selalu hadir disetiap pertandingan, bukan hanya pertandingan bahkan ketika latihan saja sang Ayah tidak pernah absen mendampingi anak kesayangannya itu.

Saking derasnya hujan malam itu membuat kami lapar dan memaksa kami untuk pergi ke luar mencari makan. Kami bertiga berniat mencari Soto Mbok Giyem di daerah Lenteng Agung namun ternyata tutup, lalu kami mengalihkan tujuan kami ke tempat Mie Ayam dan Bakso. Akhirnya kami tiba di salah satu warung bilangan Pasar Minggu, dengan segera kami memesan makanan kami sambil ngobrol ngalor ngidul ngomongin banyak hal. Tapi ada satu hal yang cukup mengejutkan dari perbincangan kami, Andri ngomongnya dewasa banget, visioner dan beda banget dari Andri yang kami kenal dulu. Ngomonginnya masa depan dan kedewasaan dalam menjalani hidup. Padahal dulu nih yaaa si Andri sekolah aj jarang masuk, ngetik di komputer aj tulisannya berantakan, apa lagi kalo disuruh ngomong di depan umum. Hadeuuhhh gak kebayang dehhh.

Usut punya usut ternyata Andri banyak belajar dan mendapat siraman rohani dari teman sekamarnya di Persija, siapa lagi kalo bukan Sang Legend Bambang Pamungkas. Andri banyak bercerita tentang Bepe malam itu, banyak pelajaran yang dapat diambil darinya baik dari dalam maupun luar lapangan. Kedewasaanya dalam berfikir dan kecerdasan dia yang memang sudah melekat sejak dulu membuat Saya dan Bagust terkagum-kagum akan pesona seorang Bepe. Dan ternyata Bepe ketika jaman sekolah dulu selalu menjadi bintang kelas di sekolahnya lohh, langganan peraih ranking 1 dan 2 di kelas. Kok agak sedikit berbeda dengan Andritany yaa *) tanya kenapa? *)hehehe piss ndri becanda, eh tapi emang bener kan? :p

Andri bercerita tentang kisruh sepakbola saat ini, dan dia menyampaikan beberapa pendapatnya terkait kisruh yang dialami PSSI. Malam itu Saya dan Bagust hanya menjadi pendengar setia dengan sesekali menyela pembicaraan Andri untuk berpendapat sesuai dengan keyakinan kami. Mulai dari kepengurusan PSSI, mafia sepakbola hingga badan olahraga profesional yang dibentuk oleh para pemain, yaitu APPI yang saat ini diketuai oleh Ponaryo Astaman.

Panjang lebar Andri bercerita namun ada hal bagus yang akhirnya dapat Saya simpulkan dalam kongkow kualitas kami malam itu. Hidup itu harus berfikir terbuka dan jadilah orang yang visioner, persiapkan semuanya sejak dini, tentunya dengan rencana yang matang dan terstruktur. Berani mencoba hal baru yang mungkin memang belum kita kuasai atau mungkin memang bukan passion kita namun tidak ada salahnya mencoba. Orang disekitar kita adalah rezeki kita, terbukalah dengan mereka untuk berkomunikasi dengan baik dan mengambil kebaikan dari mereka. Cobalah dari sekarang untuk berfikir terbuka agar hidup kita menjadi lebih baik dan mampu berjalan sesuai dengan rencana.

Senin, 12 September 2016

Brigata Curva Sud



Sore itu saya ditemani oleh 2 orang kakak beradik yang bernama Klaresta dan Klarisa. Mereka berdua asli kelahiran Jogja dan 22 nya merupakan jebolan salah satu Universitas ternama di Kota Gudeg. Saya yang berkesempatan mengunjungi Kota Jogja kala itu diajak jalan-jalan menikmati indahnya kota Jogja. Tadinya mau ke Punthuk Setumbu yang mana tempat tersebut merupakan salah satu tempat yang dipakai syuting film AADC 2, tapi sayang waktunya gak cukup karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.

Ketika ditanya oleh Klaresta mau diantar kemana untuk jalan-jalan, saya langsung menjawab ke Stadion Maguwoharjo. Yappp seperti sebelumnya ketika saya pergi keluar kota saya mempunyai ritual untuk datang ke Stadion setempat untuk berfoto. Nah, karena kali ini lagi di Jogja maka saya minta diantar ke Stadion kebanggaan Kota Jogja tersebut.

Kebetulan sekali pada hari itu ada pertandingan kandang antara PSS Sleman vs Madiun Putra. Setelah menempuh waktu kurang lebih 15 menit dari pusat kota, tibalah kami di Stadion kebanggaan warga Sleman Jogjakarta, Maguwoharjo. Kami duduk di tribun tengah dan ketika masuk stadion saya langsung terkesima dengan supporter yang menyanyikan lagu dukungan untuk tim PSS Sleman. Mereka ada di sudut selatan persis di belakang gawang dan menamakan dirinya BRIGATA CURVA SUD. 

Sesuai dengan namanya mereka berada di tribun sebelah selatan dengan tidak henti-hentinya memberikan support serta dukungan untuk tim kebanggaannya, PSS Sleman. Sumpah ini keren banget!!! Chants, yel-yel dan koreografi yang mereka buat itu sangat amat keren. Baru pertama kali saya melihat supporter se-keren ini,  kreatif, atraktif dan supportif. Mereka semua kompak memakai baju hitam dan semuanya memakai sepatu, tidak ada yang tidak memakai sepatu. Dan yang perlu digaris bawahi adalah mereka semua membeli tiket untuk menonton tim kebanggaannya. Ini benar-benar luar biasa, saya terkagum-kagum melihat atraksi mereka dari tribun, sungguh saya jatuh cinta!!!

Satu minggu sebelum berangkat ke Jogja saya mencari jersey original PSS Sleman di beberapa store baik online maupun offline dan ternyata itu semua sudah terjual habis alias sold out. Ini gilaaaaaaaaaaaaa, saya baru tau kalau jersey original yang harganya dibandrol cukup mahal itu sudah habis terjual, padahal PSS Sleman hanya bermain di kasta kedua lohh. Sungguh mereka memang benar-benar fanatik terhadap tim kebanggaannya, mereka mau membangun dan mendukung tim nya dengan luar biasa.

Saya benar-benar jatuh cinta, BRIGATA CURVA SUD menunjukkan kepada saya kalau supporter di Indonesia itu sebenarnya kreatif, atraktif dan supportif. Tidak seperti yang diberitakan di media massa, hanya rusuh, tawuran dan keesokan harinya ada berita supporter yang meninggal. Sedih mendengarnya, tapi BRIGATA CURVA SUD telah menjawab keraguan saya akan “kelakukan” supporter Indonesia, mereka memberikan rasa aman dan nyaman untuk hadir menonton sepakbola di tribun. Dedikasi dan cinta mereka untuk PSS Sleman dituangkan dalam chants, yel-yel dan koreografi yang unik, yang mampu memberikan semangat untuk para pemain yang membela PSS Sleman.

Sulit rasanya menuangkan kekaguman saya untuk supporter yang satu ini, jari saya tak kuasa mengetik untuk mewakili kekaguman saya terhadap BRIGATA CURVA SUD. Sungguh kalian luar biasa, saya jatuh cinta terhadap kalian!!! #BrigataCurvaSud #BCSxPSS #SuperElangJawa

Rabu, 29 Juni 2016

Eluu Mah Sedara Guaaahh

Setiap orang pasti pernah merasa ada di titik paling bawah dalam hidupnya atau merasa hidup tak adil dan tak seberuntung orang lain dengan anggapan rumput tetangga lebih hijau dibanding rumput sendiri, tapi itu semua hanya pandangan kamuflase yang membuat kita makin jatuh dan tertegun meratapi nasib. Ada kalanya kata-kata bijak mampu membuat diri kita terlihat tangguh akan masalah dan seakan mampu bersembunyi dari masalah, tapi itu tak bertahan lama. Pasalnya masalah itu tetiba mampu hadir dan mengingatkan kembali akan cerita buruk yang telah menghantui berminggu-minggu.

Sharing atau berbagi cerita bisa dibilang mampu mengikis sedikit demi sedikit masalah yang sedang dialami, tapi disarankan ada baiknya berbagi cerita dengan orang yang dekat dengan kita dan bisa menjaga kerahasiaan akan cerita tersebut. Jikalau tidak maka akan menimbulkan beberapa permasalahan yang nantinya merugikan kita sebagai pelacur (pelaku curhat). 

Dari beberapa teman dan sahabat, ada teman baik gw atau tepatnya teman semasa kecil yang memang banyak membantu gw belakangan ini baik dalam berbagi cerita kehidupan maupun berbagi informasi terkait dunia luar. Namanya Ade Satria tapi biasa dipanggil dengan nama okem “ELAA”, dia teman dari kecil dan pribumi asli darah betawie.

Saat ini dia bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak dibidang jasa dan sebelumnya dia pernah bekerja di beberapa tempat mulai dari konter pulsa hingga rental penyewaan mobil. Dulu ketika gw masih jadi pengangguran, gw sering main ke konter pulsanya sambil killing time. Main PS, ketawa-ketawa gak jelas dan nyanyi-nyanyi lagu iwan fals sambil jagain konter pulsanya. Dia yang “nampung” gw ketika masa-masa sulit karena nganggur dan belum punya kerjaan, padahal sih sama aj dia juga gak punya duit tapi kita sok happy dan ngerasa senang ngejalaninnya. Biar gak jadi fikiran dan beban hidup, udah nganggur banyak fikiran malah stress yang ada.

Beberapa bulan belakangan gw ngerasa jatuh dan sulit beranjak dari musibah yang gw alami. Sungguh bertubi-tubi masalah yang dihadapi mulai dari keluarga, kerjaan hingga pasangan. Rasanya kok begini banget, punya dosa apa??? rencana Tuhan yang mana lagi??? Banyak pertanyaan yang muncul sampai pusing mikirinnya. Tapi Elaa selalu mencoba menghibur gw dengan banyolan khasnya, ngingetin makan, ngingetin buka puasa sampe ngingetin sholat. Padahal dia sendiri belum tentu sholat pas ngingetin gw hehehe. Yaa apapun itu gw merasa terhibur dan merasa terisi, gak kosong banget fikiran.

Berkali-kali gw ucapkan terima kasih ke dia karena sudah mau terlibat dan membantu kesulitan yang gw alami selama ini. Satu kalimat yang selalu gw ingat dari dia “Eluu mah sedara guaahh, tenang beee dahh” hahaha rasanya mau ketawa kalau ingat kalimat itu lagi. Rasanya punya hutang budi banget sama dia karena sudah meluangkan waktunya untuk menghibur dan mampu membuat gw bangkit, berdiri tegak dan berjalan ke depan sampai saat ini.

Makasih borrr, Eluu emang sedaraaa guaaah!!!

Jumat, 17 Juni 2016

The Caretaker


Liga Champions musim ini mampu diraih oleh Real Madrid dan menyempurnakan gelar Un Ladecima setelah mengalahkan Atletico Madrid di babak Final melalui drama adu pinalti. Zinedine Zidane menjadi aktor utama dalam gelar yang diraih oleh Real Madrid, pasalnya tim ini menjadi tim pesakitan di awal musim dengan performa yang angin-anginan dan kerap mengalami kekalahan ketika melawan tim kecil. 

Berstatus sebagai assisten pelatih di awal musim, namun akhirnya naik jabatan menjadi pelatih kepala pasca dipecatnya Rafael Benitez dari kursi kepelatihan, Zidane mampu menunjukkan kapasitasnya sebagai pelatih pengganti dengan mampu membawa tim nya kembali ke papan atas klasemen dan menjuarai Liga Champions musim 2015-2016.

Zidane bukan yang pertama, dimana sebelumnya ada Roberto Di Matteo yang mampu membawa Chelsea merengkuh gelar juara Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah. Sama seperti Zidane, Di Matteo pada saat itu hanya menjabat status sebagai pelatih pengganti atau istilah bekennya Caretaker. 

Nah kebetulan gw punya cerita yang hampir sama dengan Zidane dan Di Matteo tapi agak berbeda sedikit dengan versi yang gw punya. Begini ceritanya, pada kala itu sekitar tahun 2012 gw ditunjuk sebagai assisten pelatih untuk menukangi tim FKBO (Futsal Kabupaten Bogor) yang akan berlaga di beberapa kompetisi. Awalnya kaget juga secara pada saat itu umur gw masih muda banget dan lebih memilih menjadi pemain ketimbang assisten pelatih. Gw memberanikan diri untuk bilang ke manajemen terkait hal ini namun akhirnya manajemen malah menetapkan gw sebagai assisten pelatih merangkap sebagai pemain. Walaaah dobel tanggung jawab, apa yang bisa dilakukan oleh gw sebagai pemain dan assisten pelatih dengan pengalaman yang masih minim ini??

Pelatih kepala gw ternyata lulusan salah satu akademi di negeri Belanda, namun akademi sepakbola bukan futsal, maka dari itu manajemen menempatkan gw sebagai assistennya mungkin karena dianggap gw mempunyai pengalaman yang lebih baik di bidang futsal dibanding pelatih kepala. Pertama kali dateng dan lihat materi pemain FKBO gw sangat kaget karena mereka merupakan pemain bagus semua, agak gugup awalnya karena bingung apa yang mau diajarkan ke mereka. Secara mereka semua telah mempunyai skill yang mumpuni dan diatas rata-rata, sama aj “Ngajarin ikan berenang” ini mah broooo.

Dan benar saja  prediksi gw, ternyata gw yang megang kendali penuh di tim ini baik dari pemanasan, materi latihan, pendinginan hingga line up pemain ketika bertanding. Sementara pelatih kepala hanya memberi pengarahan yang sifatnya umum dan bukan mengenai taktik ataupun teknis permainan. Di beberapa kejuaraan lokal alhamdulillah kami mampu meraih juara demi juara dan puncaknya kami mampu lolos dari regional Liga Futsal Amatir di Sukabumi dan berlanjut di Kota Bandung.

Namun akhirnya kami kalah dan tidak lolos sampai fase final karena kalah di semi final oleh salah satu tim ternama asal ibu kota yaitu My Futsal Jakarta yang ditukangi oleh Doni Zola pada saat itu. Akhirnya kami kembali ke Bogor dengan tertunduk lesu dan setelah itu gw mengundurkan diri karena ingin fokus mengembangkan diri di tempat lain.

Pengalaman yang menarik menjadi seorang Caretaker dengan beberapa thropy juara untuk tim FKBO, setidaknya gw mampu membuktikan diri dan mampu bersaing dengan pelatih-pelatih senior yang memiliki jam terbang lebih tinggi dibanding gw. Sedikit ironis memang, kalau cerita Zidane dan Di Matteo menukangi tim yang awalnya menjabat sebagai assisten lalu menjadi pelatih kepala karena dipecatnya sang pelatih, tapi kalau gw beda melainkan karena pelatih kepalanya tidak mampu memegang tim karena kemampuannya yang kurang mumpuni dibidang futsal. Apapun itu gw sangat menghargai manajemen karena telah memberi kepercayaan penuh hingga gw bisa belajar lebih banyak sebagai pelatih di tim ini.

Jumat, 03 Juni 2016

Alhamdulillah, Akad!


Alhamdulillahirrobbil a’lamin segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, One Step Closer. Bersyukur dan bersyukur mungkin itu kata-kata yang bisa gue ucapkan saat ini. Begitu gembiranya hati ini setelah melakukan akad beberapa waktu lalu. Akad yang dimaksud disini adalah akad kredit pemilikan rumah yaaa bukan akad yang lain hehehe.

Awalnya memang ada target untuk memiliki hunian pribadi entah dimanapun lokasinya yang penting punya hunian yang sifatnya pribadi, gak ngontrak, gak numpang dan mempunyai lokasi yang cukup strategis baik dari sisi akses jalan maupun keramaian. Sungguh diluar ekspektasi bisa akad di tahun ini, padahal jauh dari perkiraan kalau melihat kondisi keuangan dan kesiapan untuk memiliki rumah.

Berawal dari salah satu teman kantor yang survey ke daerah citayam untuk melihat-lihat rumah. Lucky namanya, dia ingin membeli rumah untuk investasi masa depan dimana kalau dilihat dari  sisi lokasi perumahan ini bisa dibilang strategis walau agak sedikit kepinggir. Memang citayam berada di daerah perbatasan antara Kota Depok dan Kabupaten Bogor, namun akses jalan baik untuk angkutan umum dan kereta sudah tersedia dan tertata rapi apa lagi gue ter-info didaerah ini akan dibangun jalan Tol. Wahhh bisa langsung tinggi pasti harga rumah itu beberapa tahun ke depan, secara lokasi, transportasi dan tempat perbelanjaan dapat dijangkau dalam hitungan menit.

Ada sebuah kalimat penggugah semangat yang membuat gue berani untuk kredit KPR, yaitu kalimat dari Robert Kiyosaki yang kurang lebih bunyinya begini “Seorang penabung (rajin menabung) adalah seorang pecundang.” Nah loh ngeri gak tuh bacanya? Paham? Terus harus jadi seorang penghutang agar bisa dibilang pemenang? Hmmm... Mungkin kalau diartikan kurang lebih seperti ini : orang yang mempunyai banyak hutang berarti berani mengambil banyak resiko, nah semakin banyak hutang yang dimiliki semakin banyak pula resiko, tekanan dan fikiran untuk berfikir bagaimana cara melunasi hutang tersebut. Dengan banyaknya tekanan akan timbul pemikiran ide-ide kreatif dari para penghutang yang mana ide-ide tersebut tidak akan keluar apabila kita tidak memiliki tekanan. Jadi kurang lebih hutang adalah stimulus untuk melahirkan ide-ide kreatif untuk seseorang sehingga akan  tercipta seorang pemenang yang tangguh. Nah begitu kalau kata Robert Kiyosaki. Gue pun tau setelah berbincang dengan mentor sekaligus senior yang paling gue hormati di kantor, yaitu Mas Benny. 

Nama perumahannya Citayam Village, berada di Desa Ragajaya Citayam Kabupaten Bogor. Deket banget bahkan sebelahan sama pengajian tempat Sayyidul Walid Alm. Habib Abdurrahman Assegaf yaitu Al-Busyro. Tempat pengajian yang sangat melegenda bagi kami pecinta para Habaib dan Rasul Allah, pasalnya Habib Abdurrahman Assegaf adalah seorang Wali Allah yang mempunyai karomah yang luar biasa, konon katanya di sumur dekat sungai Al-Busyro mampu mengeluarkan air zam-zam persis seperti yang di arab. Itu berkat doa Sayyidul Walid namun sayang saat ini tempat itu ditutup untuk umum. Awal tahun 2016 gue dan beberapa teman berkunjung ke Al-Busyro untuk mengikuti pengajian yang digelar disana, yaitu acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang dihadiri para Habaib dan Ulama kenamaan. Nah ketika sampai sana gue sempat ngomong ke salah satu teman gini “Enak nih ri kalo punya rumah deket sini, masih adem. Udah gitu bakalan keurugan berkahnya Sayyidul Walid.” Eh ternyata beneran, ucapan itu menjadi doa dan di ijabah oleh Allah SWT. Alhamdulillah bisa punya rumah deket dengan pengajian Al-Busyro yang melegenda, mudah-mudahan deh yaaa kedepannya ada rezeki buat renovasi dan bayar angsuran tentunya. Nah syukur-syukur kalo dikasih rezeki lebih buat dilunasin kreditannya, hehehe amiin.